SAMBAS – Dugaan penyalahgunaan barcode kendaraan kembali menjadi sorotan setelah viral di media sosial. Barcode milik kendaraan warga Nusa Tenggara Timur (NTT) diduga digunakan untuk melakukan transaksi BBM bersubsidi dalam jumlah besar di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat.
Berdasarkan informasi yang beredar, sistem SPBU 6479109 yang berlokasi di Jalan Raya Sambas mencatat kendaraan berpelat DH 1182 HF melakukan transaksi BBM sekitar 500 liter pada 10 Agustus 2026 pukul 11.37 WIB. Bahkan, riwayat transaksi serupa dengan volume mencapai 500,09 liter juga tercatat pada 1 Agustus 2026.
Temuan tersebut memicu pertanyaan publik mengenai keamanan sistem barcode atau QR Code yang digunakan dalam penyaluran BBM bersubsidi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menanggapi hal itu, Sales Area Manager Kalbar Pertamina Patra Niaga, Widhi Tri Adhi Hidayat, menjelaskan bahwa barcode kendaraan berpotensi disalahgunakan apabila pemilik tidak menjaga kerahasiaannya.
“Barcode kebiasaan ditempel di mobil, difoto, atau dicetak, itu bisa terjadi,” ujar Widhi di Pontianak, Jumat (14/8/2026).
Menurutnya, QR Code yang terdaftar pada sistem subsidi tepat sasaran memang diperuntukkan bagi kendaraan yang telah diverifikasi. Namun, apabila gambar barcode tersebar atau jatuh ke tangan pihak lain, tidak menutup kemungkinan terjadi penyalahgunaan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.
Pertamina pun mengimbau masyarakat yang mendapati barcode kendaraannya digunakan di wilayah lain untuk segera melapor melalui Call Center 135 agar dilakukan pembaruan (refresh) data barcode.
“Apabila masyarakat merasa barcode-nya digunakan di daerah lain, masyarakat bisa menghubungi 135 untuk dilakukan refresh dari barcode tersebut sehingga tidak disalahgunakan oleh oknum yang mendapatkan barcode tersebut,” jelas Widhi.
Kasus yang mencuat di Sambas ini sekaligus menjadi pengingat penting bagi seluruh pemilik kendaraan, khususnya di Kalimantan Barat, agar tidak sembarangan membagikan atau memperlihatkan barcode kendaraan kepada pihak lain.
Di tengah upaya pemerintah dan Pertamina memastikan penyaluran BBM subsidi tepat sasaran, pengawasan terhadap penggunaan QR Code dinilai menjadi faktor penting untuk mencegah kebocoran dan potensi penyalahgunaan yang dapat merugikan masyarakat yang berhak menerima subsidi.
Hingga berita ini diterbitkan, belum diketahui secara pasti apakah transaksi yang tercatat menggunakan pelat kendaraan asal NTT tersebut merupakan akibat kebocoran barcode, kesalahan administrasi, atau modus penyalahgunaan oleh pihak tertentu. Pihak terkait diharapkan dapat melakukan penelusuran lebih lanjut guna memastikan validitas transaksi dan mencegah kejadian serupa terulang kembali.
Sumber pontianak informasi



















