MediaKompas.Com, Aceh Utara — Desa Lebuk Pusaka, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara, berubah menjadi hamparan lumpur dan puing setelah banjir bandang dahsyat melanda kawasan tersebut. Berdasarkan pantauan di lokasi, Jum’at (5/12/2025). ratusan rumah warga hancur total, sebagian tersapu arus, sementara yang tersisa hanya rangka bangunan yang roboh dan berbalut lumpur tebal.
Akses jalan desa ikut tertutup lumpur dan material kayu, menyulitkan evakuasi serta penyaluran bantuan. Perabotan rumah tangga, pakaian, dan kendaraan milik warga terlihat berserakan, sebagian tertimbun material banjir. Pohon-pohon tumbang dan tumpukan lumpur membuat desa itu tampak seperti wilayah yang baru terkena bencana besar.
Geuchik Desa Lebuk Pusaka Janni, mengungkapkan bahwa banjir bandang kali ini adalah yang paling parah dalam beberapa dekade terakhir. Ia menyebutkan, sebagian besar warga kehilangan tempat tinggal dan membutuhkan penanganan segera dari pemerintah.
“Ratusan rumah hilang. Ada yang hanyut, ada yang roboh total. Warga kini tinggal dengan pakaian seadanya dan sangat membutuhkan tempat penampungan, makanan, serta air bersih,” ujar Geuchik.
Ia menjelaskan bahwa saat banjir datang, air bah turun dengan kecepatan tinggi membawa kayu gelondongan dan material dari hulu sungai. warga tidak sempat menyelamatkan barang-barang berharga karena arus datang hanya dalam hitungan menit debit ketinggian air mencapai 10 meter.
“Kami berharap pemerintah kabupaten, provinsi, dan pusat segera turun tangan. agar bisa menurunkan alat berat untuk membersihkan lumpur tebal desa kami lumpuh total, warga kehilangan tempat tinggal dan mata pencaharian. Ini bencana besar yang tidak bisa kami tangani sendiri,” tambahnya.
Saat ini, warga yang selamat mengungsi di beberapa titik aman di sekitar kecamatan. Tim relawan dan aparat keamanan telah mulai melakukan pendataan korban serta menyalurkan bantuan darurat, meski kondisi medan yang tertutup lumpur tebal menjadi hambatan utama.
Banjir bandang di Kecamatan Langkahan ini turut memicu keprihatinan berbagai pihak, baik organisasi sosial maupun masyarakat luar daerah yang mulai berkoordinasi untuk mengirimkan bantuan. Hingga kini belum ada laporan resmi mengenai jumlah korban jiwa, namun kerusakan material dipastikan sangat besar.



















