Konfirmasi Dugaan Potongan Jadup di Gampong Teungoh, Wartawan Justru Dimaki Ketua Tuha Peuet

- Penulis

Sabtu, 4 Juli 2026 - 11:50

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Spread the love

‎Kompasakses.Com, Aceh Utara – Dugaan praktik “potongan liar” terhadap Jaminan Hidup (Jadup) warga miskin mencuat di Gampong Teungoh, Kecamatan Sawang, Aceh Utara. Alih-alih mendapatkan klarifikasi dari otoritas desa, upaya konfirmasi yang dilakukan wartawan justru berujung pada makian bernada kasar dari Ketua Tuha Peuet desa setempat.

‎Informasi yang dihimpun awak media dari masyarakat menyebutkan adanya pemotongan dana Jadup sebesar Rp1 juta per penerima. Berdasarkan keterangan sumber, dana tersebut dibagi dua: Rp300 ribu untuk biaya administrasi, sementara Rp700 ribu sisanya dialokasikan untuk warga lain yang tidak menerima bantuan.

‎Pengakuan Sang Geuchik

‎Upaya verifikasi dilakukan dengan menghubungi Geuchik Gampong Teungoh pada Jumat, 3 Juli 2026. Dalam sambungan telepon, sang Geuchik mengaku tengah menjalani pengobatan intensif akibat penyakit stroke di Bireuen.

‎Ia membantah keterlibatannya dalam pemotongan dana tersebut. “Saya tidak pernah memberikan izin kutipan itu. Mereka (perangkat desa dan Tuha Peuet) meminta (izin) di Meunasah untuk mengelar rapat umum,” ujar Geuchik.

‎Ia menegaskan bahwa praktik tersebut dilakukan oleh pihak Tuha Peuet dan Sekretaris Desa (Sekdes), seraya memberikan nomor kontak Ketua Tuha Peuet kepada media.

‎Konfirmasi Berujung Makian

‎Keesokan harinya, Sabtu, 4 Juli 2026, awak media mencoba menghubungi Ketua Tuha Peuet melalui sambungan telepon WhatsApp pribadinya. Awalnya, percakapan berlangsung datar. Ketua Tuha Peuet sempat menyerahkan ponselnya kepada Sekdes untuk menjelaskan duduk perkara.

‎Namun, suasana berubah drastis ketika ponsel tiba tiba diambil kembali oleh diduga Ketua Tuha Peuet. Tanpa, ia melontarkan kalimat makian dalam bahasa daerah (Aceh) kepada wartawan.

‎”Hay bang bek jaiy netemanyoeng inan. Nejak oex ma neuh! Hebat that peugot dro ke wartawan. Wate banjir medeuh muka keuh tan, wate kaleuh banjir neuyak peugot ma neuh mandum!”

(Terjemahan: “Jangan banyak kali kalian tanya. Pergi ngett mama kalian sana! Hebat sekali kalian jadi wartawan. Waktu banjir muka kalian tidak nampak, usai banjir kalian buat gaduh semua!”)

‎Pena yang Tak Pernah Basah

‎Makian “Nejak Oex Ma neuh” yang terlontar dari mulut seorang pejabat desa bukan hanya sekadar umpatan murahan, melainkan cerminan arogansi kekuasaan yang merasa kebal hukum.

‎Ketika suara-suara sumbang terkait potongan uang rakyat dibalas dengan cacian kotor, publik pun kini bertanya: Apa yang sebenarnya sedang disembunyikan di balik tirai administrasi desa tersebut, hingga ia begitu takut pada sebuah pertanyaan?.

‎Tudingan Ketua Tuha Peuet yang menganggap wartawan tidak peduli saat masa sulit terasa ironis. Faktanya, saat banjir besar meluluhlantakkan Aceh Utara pada 2025 lalu, para jurnalis termasuk yang melakukan konfirmasi ini berada di garis depan.

‎Di tengah kepungan air yang merendam rumah dan memutus akses, pena mereka justru tak pernah kering menuliskan penderitaan warga dan kebutuhan mendesak di lapangan. Namun, bagi oknum yang merasa terganggu dengan pertanyaan kritis, seolah lupa bahwa jurnalisme hadir bukan hanya untuk memuji saat terang, tetapi juga untuk merawat keadilan saat segalanya tampak remang.

‎Menagih Keadilan untuk Warga

‎Wartawan sejatinya menjalankan fungsi sebagai pilar keempat demokrasi melalui kontrol sosial yang dilindungi Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Saat aroma uang rakyat miskin diduga disunat oleh tangan-tangan yang merasa berkuasa, konfirmasi menjadi satu-satunya jembatan untuk memastikan kebenaran.

‎Kini, bola panas ada di tangan aparat pengawasan daerah. Apakah tuduhan pemotongan ini akan berakhir menjadi sekadar catatan di atas meja, atau akan diusut hingga ke akar-akarnya? Publik Gampong Teungoh kini menanti jawaban.

‎Sebab, di balik setiap rupiah yang terpotong dari tangan warga miskin, ada harapan yang ikut terkubur, dan suara jurnalis tidak akan berhenti bergeming selama keadilan masih menjadi barang mewah di desa sendiri.

Baca Juga:  Kegiatan Rutin yang Ditingkatkan Polsek Menjalin

Berita Terkait

Wagub Kalbar Tampung Keluhan Nelayan Paloh, Dorong Pembangunan SPBN
Lagi! Warga Beurandang Dayah Tunjuk LBH ANKARA Hadapi Sengketa Dengan PTPN IV
Ibu PKK Aceh Utara Serahkan Jadup Rp80 Miliar Secara Simbolis di Dewantara
Buka PRESTASI Bersama KPK, Menteri ATR/Kepala BPN Tanamkan Semangat Bekerja Mempermudah Rakyat
Menteri Nusron Tutup Ruang Gerak Mafia Tanah Melalui Transformasi Pelayanan Pertanahan
Cerita Masyarakat Urus Balik Nama Sertipikat Sebelum Pemberlakukan Uji Coba Layanan Peralihan Hak 10 Hari
Sebarkan Semangat Transformasi Layanan Pertanahan, Menteri Nusron: Untuk Memberikan Kepastian kepada Masyarakat
Kementerian ATR/BPN Siapkan Empat Instrumen Pertanahan untuk Pertamina demi Mendukung Ketahanan Energi Nasional
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 21 Agustus 2026 - 21:33

Wagub Kalbar Tampung Keluhan Nelayan Paloh, Dorong Pembangunan SPBN

Jumat, 21 Agustus 2026 - 13:20

Lagi! Warga Beurandang Dayah Tunjuk LBH ANKARA Hadapi Sengketa Dengan PTPN IV

Jumat, 21 Agustus 2026 - 13:13

Ibu PKK Aceh Utara Serahkan Jadup Rp80 Miliar Secara Simbolis di Dewantara

Jumat, 21 Agustus 2026 - 04:52

Menteri Nusron Tutup Ruang Gerak Mafia Tanah Melalui Transformasi Pelayanan Pertanahan

Jumat, 21 Agustus 2026 - 04:51

Cerita Masyarakat Urus Balik Nama Sertipikat Sebelum Pemberlakukan Uji Coba Layanan Peralihan Hak 10 Hari

Jumat, 21 Agustus 2026 - 04:49

Sebarkan Semangat Transformasi Layanan Pertanahan, Menteri Nusron: Untuk Memberikan Kepastian kepada Masyarakat

Jumat, 21 Agustus 2026 - 04:48

Kementerian ATR/BPN Siapkan Empat Instrumen Pertanahan untuk Pertamina demi Mendukung Ketahanan Energi Nasional

Jumat, 21 Agustus 2026 - 04:47

Pengukuran Terjadwal Beri Kepastian Waktu Layanan bagi Masyarakat di 446 Kantah

Berita Terbaru

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x