Mediakompas.com, Bengkayang – Skandal lama kembali mencuat. Pemilik SPBU yang berlokasi di Jalan Basuki Rachmat,Malo Jelayan Kecamatan Teriak Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat,dengan nomor SPBU 64.791.20 “Ibu FR” di Kabupaten Bengkayang, yang sempat diamankan oleh Polda Kalimantan Barat beberapa waktu lalu, kini diduga kembali melakukan praktik ilegal pengisian bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi menggunakan jerigen.
SPBU ini satu-satunya di Bengkayang yang setiap hari terlihat melayani pengisian jerigen secara terang-terangan. Aktivitas tersebut jelas melanggar aturan yang ditetapkan oleh pemerintah terkait distribusi BBM subsidi yang seharusnya hanya untuk kendaraan resmi dan masyarakat miskin.
Beredar informasi yang menghebohkan: menantu dari pemilik SPBU tersebut mendapat jatah BBM jenis solar sebanyak 2 ton setiap harinya. Diduga kuat bahwa jatah tersebut adalah BBM cadangan yang seharusnya diatur ketat oleh PT Pertamina, namun diselewengkan demi kepentingan pribadi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ironisnya, BBM bersubsidi ini tidak jatuh ke tangan yang membutuhkan. Dugaan kuat menyebutkan adanya kerja sama terselubung antara pemilik SPBU dengan oknum pengusaha tambang emas ilegal (PETI), yang secara rutin menyalurkan solar untuk aktivitas tambang liar di wilayah Bengkayang.
Catatan kelam tak menghentikan aksi. Meski tiga orang, termasuk pemilik SPBU ini, pernah ditangkap oleh Polda Kalbar, namun praktik ilegal tampaknya masih terus berlanjut. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar: ada apa dengan penegakan hukum di Bengkayang?
Sosok bernama Ab menjadi sorotan warga. Ia terlihat setiap hari mengantre solar di SPBU Ibu FR, menggunakan berbagai kendaraan mulai dari dump truck hingga mobil Hilux putih yang penuh dengan jerigen berisi solar, lalu mengantarkannya ke rumah-rumah para bos tambang PETI.
Masyarakat resah, hukum diuji. Ketika subsidi yang seharusnya menjadi hak rakyat malah dinikmati segelintir orang untuk merusak alam dan melanggar hukum, siapa yang harus bertanggung jawab?
Sampai berita ini terbit belum ada keterangan resmi dari pihak terkait.
Jurnalis: Radiansyah



















