Mahasiswa Paniai Seluruh Indonesia Gelar Aksi Damai Tolak DOB, Tambang, dan Wisata di Paniai

- Penulis

Rabu, 16 Juli 2025 - 13:33

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Spread the love

Media kompas.Com Paniai Papua Tengah — Solidaritas Mahasiswa se-Indonesia asal Kabupaten Paniai (SMI-KP) dan Masyarakat Paniai menggelar aksi demonstrasi damai di Kantor DPRD Kabupaten Paniai , Madi, Paniai, Papua Tengah, pada Jumat (11/7/2025). Aksi ini dilakukan sebagai bentuk penolakan terhadap rencana pemekaran Daerah Otonomi Baru (DOB) di Kabupaten Paniai, masuknya tujuh perusahaan tambang besar, serta proyek pembangunan wisata, pelanggaran HAM dan militerisme yang dinilai tidak berpihak pada masyarakat adat.

Mahasiswa memprotes rencana pembentukan empat kabupaten baru, termasuk Wedauma (wilayah Tiga di Bogobaida) dan Delama Jaya (Ibukota Duma Dama) Dan Paniai Barat, . Mereka menilai, pemekaran ini hanya akan membuka jalan bagi kepentingan elit politik, investasi tambang skala besar, serta memperluas praktik militerisme dan pelanggaran HAM di Paniai.

“Rakyat butuh pendidikan, kesehatan, bukan pemekaran yang hanya menjadi pintu masuk militer dan perusahaan. Tanah ini bukan untuk dijual,” tegas Nando Boma orator aksi.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Aksi ini juga menolak rencana beroperasinya tujuh perusahaan tambang yang akan mengeksploitasi, gas bumi, uranium, dan bauksit, serta menyoroti pembangunan sektor wisata yang berpotensi merusak lingkungan dan merampas ruang hidup masyarakat adat.

Beberapa tokoh penting turut hadir dan memberikan dukungan langsung dalam bentuk pernyataan sikap:

Daniel Degei : Tokoh Masyarakat Paniai : “Kami masyarakat adat berdiri di belakang mahasiswa. DOB dan tambang hanya membawa kehancuran. Kami tolak semua bentuk perampasan tanah adat.”

Lukas Yeimo Perwakilan Kepala Suku:

“Pemekaran tanpa persetujuan masyarakat adat adalah bentuk penjajahan baru. Kami kepala suku menyatakan menolak secara adat dan budaya.”

Yesmot Mote, Tokoh Adat:

“Tanah ini warisan leluhur. Tidak bisa dijual atas nama pembangunan. Pemerintah harus dengar suara rakyat, bukan suara investor.”

Marcelino Pigai, Tokoh Intelektual Budaya Paniai : “Pembangunan yang tidak dimulai dari kearifan lokal adalah pemaksaan. Kami tolak wisata kapitalistik yang akan menyingkirkan masyarakat adat.”

Pdt. Agus Mote, S.Th, Ketua Keadilan dan Perdamaian Paniai : “Tuhan menciptakan tanah ini untuk kehidupan, bukan untuk dikuasai elite dan korporasi. Pendropan militer dan pelanggaran HAM harus dihentikan sekarang juga.”

Usai aksi damai, perwakilan mahasiswa diterima langsung oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Paniai. Aspirasi tersebut disambut baik oleh Ketua DPRD Sementara Hengki Kera Ogetai, bersama sejumlah anggota dewan lainnya.

Dalam sambutannya, Hengki Kera Ogetai menyampaikan bahwa pihak DPRD menghargai aspirasi mahasiswa dan masyarakat, serta berkomitmen untuk menindaklanjuti sesuai dengan kewenangan dan mekanisme yang berlaku di lembaga legislatif.

“Kami akan pelajari seluruh poin aspirasi dan membawa ini dalam forum resmi DPRD. Suara mahasiswa adalah bagian dari suara rakyat, dan itu menjadi tanggung jawab kami untuk mengawalnya,” tegas Ogetai.

Baca Juga:  Warga Desa Bayi Pertanyakan Penyaluran Daging Meugang Bantuan Presiden

Penias Yeimo selaku penanggung jawab aksi mengatakan dengan diterimanya aspirasi ini secara terbuka. “Mahasiswa dan rakyat Paniai berharap langkah nyata segera diambil oleh DPRD untuk menghentikan seluruh agenda pemekaran, penambangan, serta pembangunan pariwisata yang tidak berbasis pada partisipasi rakyat,” tandasnya.

Aksi damai ini ditutup dengan penyerahan dokumen pernyataan sikap resmi kepada pihak DPRD Kabupaten Paniai. Tuntut 10 poin sikap mahasiswa :

1. Menolak rencana pemekaran Kabupaten Delama Jaya, Pemekaran ini tidak berdasarkan pada kebutuhan dan aspirasi rakyat, melainkan hanya menguntungkan kelompok tertentu.

2. Menolak rencana pemekaran Kabupaten Wilayah III (Wedauma). Pemekaran ini dipandang sebagai upaya memecah belah masyarakat adat dan wilayah budaya.

3. Menolak rencana pemekaran Kabupaten Paniai Timur, Kami menilai pemekaran ini berpotensi menambah beban anggaran dan memperparah konflik sosial di tingkat lokal,

4. Menolak keberadaan seluruh perusahaan tambang ilegal di Kabupaten Paniai, termasuk yang beroperasi di wilayah Degeuwo, Aktivitas pertambangan ilegal telah merusak lingkungan, mencemari sungai, dan merampas hak hidup masyarakat adat.

5. Menolak rencana pengembangan sektor pariwisata yang tidak melibatkan masyarakat dan mengancam kelestarian wilayah adat di Kabupaten Paniai, Pariwisata tidak boleh menjadi dalih untuk mengkapitalisasi tanah adat tanpa persetujuan dan keterlibatan masyarakat lokal.

6. Menuntut pencabutan dan pemulangan seluruh aparat militer organik dan non-organik dari wilayah Kabupaten Paniai, Kehadiran militer hanya menimbulkan rasa takut, ketidaknyamanan, dan tidak menyelesaikan masalah secara damai.

7. Menuntut penghentian segala bentuk pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di Kabupaten Paniai, Rakyat sipil berhak hidup damai tanpa ancaman kekerasan negara.

8. Menuntut TNI-Polri untuk segera menghentikan tindakan intimidasi, kekerasan, teror, dan pelanggaran hukum terhadap masyarakat sipil, Tindakan-tindakan tersebut menyebabkan trauma psikologis yang mendalam, terutama bagi perempuan dan anak-anak.

9. Menolak seluruh program pemerintah yang tidak berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan masyarakat Paniai, Pembangunan harus berpihak pada kebutuhan rakyat, bukan untuk kepentingan elite dan investor.

10. Apabila tuntutan ini tidak direspons dan dipenuhi, maka kami nyatakan akan melakukan aksi demonstrasi Jilid II dalam waktu dekat, Ini adalah bentuk komitmen moral dan tanggung jawab kami sebagai anak bangsa untuk menjaga hak dan martabat masyarakat Paniai.

Tutur Yulvin mote Kami badan pengurus partai bintang timur dan aktivis kemanusiaan di paniai memintah negara harus menghentikan pendropan militer organik dan non-organik di seluruh tanah papua dan tolak memberikan DOB dan PT Illgal di papua dan memberikan kami bernegara dan proses itu negara harus menindak lanjuti untuk menjawab permintaan orang papua.

Penulis: YULVIN MOTE aktivis kemanusiaan dan pimpinan badan pengurus pusat partai bintang timur di papua.

Berita Terkait

Wakil Bupati Aceh Utara Ajak Semua Pihak Bergandeng Tangan Bangun Daerah di Musda Golkar XI
HUT ke-4 Satupena.co.id di Aceh Tengah: Dari Kata Menjadi Karya, Mengabdi untuk Masyarakat
Raih Gelar Doktor di Usia Muda, Muhammad Johan Jadi Inspirasi Birokrat Pendidikan Aceh
Lagi! Warga Beurandang Dayah Tunjuk LBH ANKARA Hadapi Sengketa Dengan PTPN IV
Ibu PKK Aceh Utara Serahkan Jadup Rp80 Miliar Secara Simbolis di Dewantara
Lima Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama Aceh Utara Dilantik, Bupati Tekankan Integritas dan Pelayanan Publik
Seni Budaya Aceh Sedati Tunang Meriahkan HUT ke-81 RI di Cot Girek
Drum Band SMA Negeri 1 Cot Girek Meriahkan Karnaval HUT ke-81 RI
Berita ini 77 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 15:36

Wakil Bupati Aceh Utara Ajak Semua Pihak Bergandeng Tangan Bangun Daerah di Musda Golkar XI

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 15:26

HUT ke-4 Satupena.co.id di Aceh Tengah: Dari Kata Menjadi Karya, Mengabdi untuk Masyarakat

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 15:18

Rakorda MUI Wilayah V se-Kalimantan 2026 Digelar di Pontianak, Bahas Ekonomi, Ekologi dan Sosial-Keagamaan

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 03:19

PLB Temajuk Kembali Diaktifkan, Bupati Satono: Perbatasan Beranda Terdepan Indonesia

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 02:50

Masyarakat Peduli Mangrove Tagih Kejelasan, Wakil Rakyat Diminta Usut Pembabatan Hutan Mangrove

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 00:57

Raih Gelar Doktor di Usia Muda, Muhammad Johan Jadi Inspirasi Birokrat Pendidikan Aceh

Jumat, 21 Agustus 2026 - 21:33

Wagub Kalbar Tampung Keluhan Nelayan Paloh, Dorong Pembangunan SPBN

Jumat, 21 Agustus 2026 - 13:20

Lagi! Warga Beurandang Dayah Tunjuk LBH ANKARA Hadapi Sengketa Dengan PTPN IV

Berita Terbaru

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x